DAPATKAN BUKU "MENYIAPKAN KESUKSESAN ANAK ANDA" DI GRAMEDIA BOOKSTORE DI SELURUH INDONESIA
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juli 2011

SUKSES YANG TERKUCILKAN

Oleh : SUPANDI, S.Pd, MM.

Kehidupan manusia dikelilingi oleh dinamika kehidupan yang beraneka ragam bentuknya. Hidup manusia senantiasa diselimuti oleh bermacam-macam pengaruh, baik pengaruh positif maupun pengaruh negatif. Pengaruh positif berkaitan erat dengan apa yang disebut dengan “petunjuk”. Sedangkan pengaruh negatif berhubungan erat dengan “godaan”. Kedua jenis pengaruh ini tidak hanya menghinggapi satu atau dua orang tetapi ke semua orang.

Dalam sebuah hadis Nabi dikatakan bahwa kemiskinan itu dekat dengan kekufuran. Bunyi hadis tersebut nampaknya logis yaitu tatkala hidup seseorang berada dalam level miskin atau serba kekurangan maka ketahanan jiwanya akan rapuh dalam menghadapi cobaan hidup. Disini dibutuhkan sebuah prinsip yang kuat dengan menggigitkan gigi-gigi gerahamnya pada norma-norma agama. Dengan demikian maka prinsip tersebut akan mampu menangkis segala bentuk godaan.

Tentunya tidak sedikit juga manusia yang tetap tegar dan mampu berpegang pada prisip kebenaran. Mereka tidak rapuh walau diterjang badai. Mereka tidak gentar menghadapi cobaan hidup walaupun mereka dalam kondisi serba kekurangan. Mereka tetap menghiasi dunia dengan cahaya dzikir kepada Sang Pencipta. Mereka senantiasa meramaikan dunia dengan amalan-amalan ibadahnya kepada Sang Khalik. Bagi mereka kemiskinan hanya merupakan bagian dari liku kehidupan. Kemiskinan akan berubah menjadi kaya ketika hati manusia tidak mempermasalahkannya. Kemiskinan bisa berubah menjadi kesuksesan hidup. Semua ini tergantung kepada kemauan dan kemampuan manusia dalam merubahnya.

Amalan agama sering dijadikan tumpuan oleh kebanyakan orang untuk mencapai kesuksesan hidupnya. Amalan agama sering mereka gunakan sebagai andalan untuk mendapatkan tujuan hidup sukses. Mereka percaya bahwa kekuatan dari Tuhan adalah segala-galanya. Konsep sukses yang demikian yang akan mengantarkan hidup mereka bahagia.

Konsep sukses bahagia yang datang atas ridlo dari Tuhannya juga yang akan membimbing mereka menjadi orang yang idealis, memiliki prinsip hidup, dan rendah hati (tawadu’). Tidak heran apabila kita sering menjumpai orang-orang sukses tetapi mereka tetap menunjukkan sikap-sikap ramah, familier, rendah hati, bijaksana, dermawan, dan menyejukkan hati.

Tipe orang sukses sebagaimana yang disebutkan diatas mencerminkan bahwa apa yang telah diraihnya adalah merupakan pemberian dari Tuhan serta luasnya wawasan ilmu yang mereka miliki. Benar, mereka adalah orang-orang yang berilmu. Semakin banyak ilmu yang dimiliki seseorang maka akan semakin jauh mereka dari kesombongan. Orang yang sombong adalah orang yang sedikit ilmu.

Perjalanan hidup orang yang sukses tidak akan lepas dari berbagai cobaan dan godaan. Suatu saat Tuhan akan menguji kesuksesannya dengan godaan. Apabila mereka kuat mengatasi godaan-godaan yang dihadapinya maka mereka akan menjadi manusia yang sukses mulia. Tapi sebaliknya, apabila mereka rapuh pertahanan keimanannya maka konsekuensinya mereka akan menjadi orang sukses yang hina.

Orang yang sukses mulia akan semakin langgeng karena keberadaannya lebih banyak memberi manfaat bagi orang lain dan keluarganya. Kesuksesannya akan mudah dinikmati dan dilanjutkan oleh anak cucunya. Hal ini disinyalir oleh sabda Nabi yang berbunyi, “Sebaik-baik manusia adalah mereka yang lebih bermanfaat bagi orang lain, sejelek-jelek manusia adalah yang keberadaannya didunia seperti tidak ada. (HR. Bukhori)”.

Manifestasi dari orang-orang yang sukses mulia adalah adanya support dan doa dari banyak orang agar mereka senantiasa eksis. Orang yang sukses mulia memperoleh apa yang diinginkannya tanpa merugikan pihak lain. Orang yang sukses mulia mencari apa yang diinginkannya melalui koridor agama yang tepat. Sebagai imbasnya mereka akan merasakan hidup nyaman, makan enak, dan tidur nyenyak, lantaran segala yang telah didapatkannya mendapat rekomendasi dari Tuhan. Manakala apa yang telah didapatkannya tadi yang berupa harta, rejeki, atau ilmu dinikmati oleh anak istri maka akan mengandung berkah dari Tuhan. Dan darah yang mengalir di dalam tubuh anak dan isterinya adalah darah yang penuh berkah. Hal ini sekaligus juga merupakan cerminan perjuangan dan bentuk kasih sayang yang sempurna kepada keluarga.

Di sisi lain, tidak bisa disangkal, betapa berat pilihan yang dihadapi oleh seseorang tatkala dia dihadapkan pada sebuah iming-iming yang begitu menggiurkan. Bisa dibayangkan betapa bergolaknya hati seseorang ketika idealisme yang dimiliki selama ini dirayu oleh gemerlapnya uang. Sulit dibayangkan seandainya saya dan Anda dihadapkan pada sebuah kesempatan yang begitu terbuka untuk mendapatkan tamsil (tambahan penghasilan) dengan cara mudah tapi tidak halal.

Antara keinginan untuk memanfaatkan situasi dengan bisikan kesucian hati akan bertempur dengan sengit. Apabila bisikan setan yang menang maka yang terjadi mereka akan tergelincir ke dalam jurang kenistaan. Makna hidup yang sesungguhnya akan sirna. Mereka akan jauh dari cahaya kehidupan yang dirahmati oleh Tuhan. Mereka akan terperangkap ke dalam keadaan yang sangat mengerikan.

Berkaitan dengan kondisi yang seperti tersebut di atas, Nabi Muhammad Saw telah memperingatkan kepada kita sebagai bentuk kecintaannya kepada kita, melalui sabdanya : “Ada dua dosa yang Allah Swt tidak akan menangguhkan azabnya di dunia, yaitu durhaka kepada kedua orang tua dan berbuat dzolim kepada sesama. (HR. Bukhori – Muslim).

Apabila kita cermati hadis diatas maka ada satu sisi yang begitu mengerikan yang perlu kita hindari yaitu bahwa apabila seseorang melakukan dua hal sebagaimana yang disebutkan diatas maka azab Allah akan dibayarkan tunai di dunia. Mengambil sesuatu yang bukan haknya adalah merupakan bentuk kedzoliman terhadap sesama. Sebagai konsukuensinya maka azab dari Allah segera ditimpakan kepadanya atau keluarganya. Musibah akan segera datang silih berganti, baik yang menimpa dirinya maupun anggota keluarganya.

Untuk mengantisipasi hal itu dibutuhkan sebuah ketahanan iman yang kokoh, sebuah kecerdasan spiritual yang sempurna, dan sebuah kesadaran jiwa yang luar biasa. Dukungan moral dari keluarga sangat diperlukan untuk memperkokoh benteng keimanan. Peran istri sangat besar dalam mengarahkan suami dalam menentukan pilihan. Istri yang baik akan cenderung mengarahkan suami ke hal-hal yang baik. Istri yang baik akan berperan penting dalam penegakan keluarga dan bahkan kondisi negara yang baik. Almar’atu ‘imadul bilad, idza sholuhat sholatul bilad (Wanita adalah pilar negara, apabila wanitanya baik maka baiklah negara, apabila wanitanya jelek maka akan jelek pula suatu negara).

Kondisi di lapangan memang tidak sesederhana teori saja. Siapapun akan merasa berat ketika harus berhadapan dengan situasi yang penuh dengan pilihan. Terlebih jika kebobrokan itu sudah berada dalam sebuah sistem. Seandainya tidak ikut ambil bagian dalam memanfaatkan kesempatan yang ada maka akan dikucilkan. Sebaliknya bila turut serta dalam lingkaran setan maka hukuman dari Allah segera menimpanya langsung di dunia.

Langkah terbaik yang perlu diambil ketika seseorang berada dalam lingkaran setan adalah menanamkan sebuah prinsip yang kuat pada dirinya. Sebuah prinsip yang bijaksana dalam menentukan pilihan, lebih baik dikucilkan oleh manusia daripada dikucilkan oleh Tuhan. Orang baik akan dikucilkan oleh sistem yang jelek. Orang jelek akan dikucilkan oleh sistem yang baik. Itulah dinamika kehidupan. Sebagai manusia yang penting adalah bagaimana berbuat baik kepada sesama manusia dan kepada Tuhannya. Semoga Tuhan selalu menunjukkan jalan yang terbaik kepada kita. Amin.

Selasa, 19 Juli 2011

PENGAMEN MUDA DI DEPAN RUMAH

Keingingan kecil tidak akan menghasilkan tindakan besar

Seorang pengamen muda di depan rumah yang sedang mendendangkankan lagu, tiba-tiba mengingatkan saya pada masa kecil saya dulu. Pemandangan itu mirip dengan yang terjadi pada puluhan tahun yang lalu. Saat itu ada seorang pengamen. Dia adalah seorang pemuda usia dua puluhan tahun, mengalunkan lagu di depan rumah orang tua saya saat itu. Belum selesai satu lagu, ibu saya keluar, menyodorkan dua lembar uang lima ratusan. Nominal uang yang cukup besar menurut saya jika dibandingkan dengan kondisi keuangan yang dipunyai oleh ibu saya. Saya tahu betul bahwa ibu memberinya uang sejumlah itu bukan karena beliau sedang berlebih, namun ada alasan tertentu dibalik itu. Dengan ikhlas sebagian besar uang yang beliau miliki diberikannya kepada pemuda pengamen tersebut. Karuan saja, transaksi itu mendapat komplain dari saya.

“Bu, mengapa ibu memberi uang begitu banyak sama pengamen itu? Bukankah uang ibu cuma sedikit?”

Dengan tenang beliau menjawab “Tidak apa-apa nak, ibu kasihan sama pemuda itu. Entah mengapa, ibu merasa sedih, ibu jadi teringat anak-anak ibu”.

Dengan sekejap saya memahami makna yang terkandung dalam jawaban ibu. Sebuah ekspresi yang merepresentasikan ketulusan. Ketulusan yang didorong oleh perwujudan kasih sayang kepada anak. Dari delapan anak yang keluar dari rahimnya, lima diantaranya adalah laki-laki. Sehingga sangat bisa dimaklumi apa yang telah dilakukan ibu kepada pengamen itu. Bentuk perhatian dan kasih sayang yang sangat besar kepada anak-anaknya terefleksikan oleh sikap beliau kepada si pengamen muda.

Kasih ibu sepanjang hayat, kasih anak sepanjang jalan, nampaknya sangat klop dengan peristiwa tadi. Bahkan saya menilai, bentuk kasih sayang orang tua saya kepada anak-anaknya sudah mencapai titik tertinggi. Tidak ada secuilpun kemampuan yang tersisa. Mereka telah menguras habis segala kemampuannya untuk mengantarkan anak-anaknya hingga memperoleh bekal yang memadai di masa depan. Dalam istilah Jawa, “Tidak ada lagi setetes darahpun yang akan keluar jika kulit tubuhnya digores”.

Bentuk eksplorasi kemampuan secara maksimal benar-benar sudah mereka kerahkan untuk kepentingan masa depan anak-anaknya. Hasil visualisasi diri akan masa depan anak telah berhasil dipetik. Tidak sebatas pada visi jangka pendek, melainkan konsep yang mereka bangun sudah memenuhi target maksimal. Kekuatan visualisasi sangat menentukan impian dan tujuan hidup Anda. Tentu saja, visi harus dibarengi dengan keyakinan, tindakan, dan doa. Visi tanpa aksi adalah fantasi. Aksi tanpa visi adalah kenangan. Visi dengan aksi adalah kekuatan. Visi dengan aksi hendaknya dimiliki oleh para orang tua dalam mengekspresikan kasih sayangnya kepada anak. Kasih sayang yang sesungguhnya adalah yang memiliki konsep jangka panjang. Anak memiliki pegangan hidup yang jelas dan kuat. Dengan demikian. kebahagiaan dan kepuasan batin dan lahir akan benar-benar dapat dinikmati oleh para orang tua yang memiliki komitmen demikian.

Keinginan kecil tidak akan melahirkan tindakan yang besar. Sebaliknya, keinginan yang besar akan menghasilkan tindakan yang besar. Ukuran basar dan kecil dalam hal ini tentu relatif. Namun demikian masing-masing orang tua sebaiknya memiliki konsep yang jelas, yakni. konsep yang diawali dari keinginan besar dan berwawasan jangka panjang untuk kepentingan anak.

Konsep jangka panjang yang dimaksud adalah kondisi dimana seorang anak memiliki pegangan hidup, berupa ilmu, materi, skill, talenta, pekerjaan. Itulah modal yang harus mereka miliki untuk meraih kesuksesan, dan kebahagiaan.

Sebagai penutup, silahkan Anda simak cuplikan syair karya Kahlil Gibran berikut ini : “ Anakmu bukan milikmu. Mereka lahir lewat engkau, tapi bukan dari engkau. Berilah mereka kasih sayang, namun jangan berikan pemikiranmu. Patut kau berikan rumah bagi raganya, namun tidak bagi jiwanya. Sebab jiwa mereka adalah penghuni rumah masa depan yang tiada dapat kau kunjungi, sekalipun dalam mimpi”. (***)

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | Best Buy Printable Coupons