DAPATKAN BUKU "MENYIAPKAN KESUKSESAN ANAK ANDA" DI GRAMEDIA BOOKSTORE DI SELURUH INDONESIA

Sabtu, 15 November 2014

Aku Tak Pernah Memilikimu

Cerpen Supandi

Awalnya aku hanya mencoba-coba, akan tetapi pada akhirnya aku sepertinya kecanduan. Nginang. Jika sore tiba aku sering menemani budhe nginang hingga memerah gigi dan bibirku. Aku berharap bisa memiliki gigi seperti budhe, sehat dan kuat. Di usianya yang mendekati tujuh puluh tahun, budhe masih memiliki gigi yang masih utuh.
Harapanku ternyata benar. Gigi-gigiku sehat dan kuat. Aku masih mampu mengunyah lanting, sate kambing dan makanan-makanan keras dan kenyal lainnya walau usiaku hampir empat puluh tahun. Aku memiliki tubuh yang sehat. Bahkan menurutku, aku juga energik. Aku yakin semua ini karena konsumsi makananku yang beraneka ragam, berkat gigi-gigiku yang kuat.
Belakangan aku menyadari ada plak hitam di sebagian gigiku setelah anak gadisku beberapa kali menegurku. Namun setiap kali aku bercermin di depan kaca, aku memilih pertimbangan yang berbeda, “Buat apa punya gigi putih kalau tidak sehat dan kuat” pikirku. Beberapa kali anakku dan juga suamiku mengingatkanku untuk berhenti nginang, tapi nasehatnya tidak pernah aku gubris. Aku sepertinya nyaris kecanduan. Lidahku sudah tidak asing lagi dengan rasa pahit daun sirih. Lidahku sudah akrab dengan rasa getir susur.
“Kalau aku perhatikan, kamu kok semakin sering nginang, Ma?” entah sudah berapa kali mas Tarjo menegurku. Aku melihat ada gurat-gurat kekecewaan di wajahnya, tapi aku masih enggan untuk menghapus kekecewaan dia. Entahlah. Aku rasanya tidak ingin disetir. Aku ingin hidup sesukaku sebatas tidak melanggar perintah Gusti Allah. “Sekarang sudah tidak jamannya lagi nginang, Ma! Sekarang kan sudah ada pasta gigi?” aku hanya diam mendengar nasehat mas Tarjo sambil sesekali menyemprotkan ludah berwarna merah kehitam-hitaman dari mulutku kearah lantai berdebu.
“Iya, mama sekarang kok jadi sering nginang, Ma?” anak gadisku ikut mendukung bapaknya. “Lagian, mama sekarang juga suka ngga teratur dech, cara merawat diri. Padahal, mama ini aslinya cantik lho... coba kalau merah bibirnya diganti sama lipstick, pipinya pakai bedak, terus... itu lho Ma, kalau berpakaian, Mama harus lebih pintar dalam mengkombinasikan antara baju dan kerudung, pasti dech bapak akan lengket terus sama Mama!” aku cukup tersudut menghadapi ocehan suami dan anak gadisku. Mereka benar. Akupun sebenarnya tahu bahwa kebiasaanku itu kurang baik. Bahkan aku juga tahu, mereka mengharapkan aku bisa mengikuti trend modis yang sedang up to date.
Malam ini terasa begitu mencekam. Aku tiba-tiba merasakan takut. Tapi anehnya, aku tidak tahu persis apa yang sebenarnya aku takutkan. Semua ini mungkin berawal dari kebiasaanku nginang dan berpakaian apa adanya yang membuat suami dan anakku tidak berkenan. Aku menyadari ada sisi yang membuatku merasa bersalah. Sejak gigi-gigiku tidak terlihat putih cemerlang, sejak aku mengabaikan penampilan diriku, lambat laun kekecewaan mas Tarjo semakin menggunung. Saat itu mas Tarjo benar-benar tidak bergairah lagi terhadap diriku. Imbas dari semua itu, aku harus menerima kenyataan pahit. Mas Tarjo berpaling dariku. Ini memang salahku hingga suamiku menjalin hubungan tali asmara dengan Parsiyah, rekan bisnisnya.
Mas Tarjo sering pulang malam. Sepulang dari tempat kerja Mas Tarjo tidak langsung pulang ke rumah dengan alasan ada pesanan jamu. Aku tahu betul bahwa itu hanyalah alasan di bibir saja. Tetapi aneh. Aku tidak bergairah untuk menginterogasi kegiatan suamiku di luar. Aku selalu membimbing hatiku untuk tidak berpikiran yang aneh-aneh. Lagian, fakta sudah membuktikan bahwa setiap kali pulang malam Mas Tarjo pulang tidak dengan tangan hampa. Kebutuhan kami tercukupi dan bisa menabung. Itu barangkali yang bisa meredam sakit hatiku.
“Mba Anis ini bagaimana? Mas Tarjo sering pergi sama wanita lain kok tenang-tenang saja?” Tonah, adiku tampak geregtan memperingatkanku.
“Lho... Mba juga tenang-tenang saja, kok kamu yang ribut?” kataku datar.
“Weh...heran dech... emang Mba Anis belum percaya dengan isu itu?”
Emang gue pikirin?” aku menanggapinya enteng.
“Kalau aku jadi Mba Anis, sudah kudamprat tuh Mas Tarjo!”
Aku juga heran kepada diriku sendiri. Jujur, awalnya aku sakit. Tapi entah mengapa, semakin santer isu tentang perselingkuhan Mas Tarjo, aku malah merasa biasa-biasa saja. Aku sama sekali tidak cemburu walaupun aku yakin suamiku benar mempunyai WIL (wanita idaman lain). Aku kadang mencari jawaban sendiri, barangkali karena aku tidak menerima kenyataan yang bertahun-tahun menjadi teka teki dalam kehidupan rumah tanggaku. Teka teki tentang sosok Handika. Nama itu selalu membayang di pelupuk mata. Semakin dekat hubungan suamiku dengan Parsiyah, justru hati ini semakin terpatri pada sosok Handika.
Ada beberapa lelaki yang mengharapkan diriku saat aku baru lulus SLTA. Aku menjadi ajang kompetisi bagi beberapa lelaki. Salah satu diantara mereka adalah Handika. Tapi  entah kekuatan darimana, sehingga Mas Tarjo, laki-laki yang tidak aku harapkan justru akhirnya membawaku dalam pelaminan. Sungguh sebuah teka-teki besar bagiku. Diriku seperti digerayangi kekuatan aneh yang membuatku tak berdaya hingga aku bertekuk lutut di hadapan Mas Tarjo.
Diatas tawa Mas Tarjo aku yakin ada kekecewaan Handika. Namun bayang-bayang tentang gejolak cinta antara diriku dengan Handika itu ternyata hanya sebatas fatamorgana. Di usiaku yang semakin tua, di usia perkawinanku yang sudah dianugerahi tiga orang anak, selayaknya aku tidak memikirkan hal-hal yang tidak berguna itu. Aku malu dengan diriku saat ini. Akan tetapi sejak Mas Tarjo berpaling ke wanita lain, aku tidak bisa mungkir dari hadirnya fatamorgana itu.
Sore itu, hari Minggu, enam tahun yang lalu, aku benar-benar terperanjat menerima kenyataan yang sangat memilukan. Mas Tarjo pulang diantar oleh sebuah mobil ambulan. Bunyi sirine bergema, menjawab kabar duka yang sudah santer merambah dari telinga ke telinga. Aku menatap pilu ketika jasad Mas Tarjo diturunkan dari ambulan. Aku pasrah dengan Sang Kuasa. Tubuhnya sudah terbungkus dengan kaih kafan namun darah terus merembes dari sekujur tubuhnya. Bahkan aku tidak diperbolehkan untuk membuka dan melihat jasadnya.
Berdasarkan berita yang berkembang, Parsiyah juga mengalami nasib yang sama. Kedua sejoli yang sedang mabuk cinta itu dihantam oleh bus cepat dari arah yang berlawanan ketika motor yang dikendarai oleh mas Tarjo hendak menyalip sebuah truk pengangkut semen. Ketika motor yang mereka kendarai nongol di sebelah kanan truk, tidak disangka, ada bus cepat jurusan Jakarta Jogya meluncur dengan kecepatan tinggi dari arah yang berlawanan. Peristiwa tragis itu tidak bisa mereka hindarkan. Cinta mereka terbawa hingga ke alam keabadian. Mas Tarjo telah pergi bersama Parsiyah untuk selama-lamanya. Saat itu aku hanya terbengong menerima lelakon hidup yang jauh diluar kuasa dan kehendak manusia.
Bagaimana dengan anak-anak? Itulah yang sering membuatku lunglai. Membesarkan mereka bertiga hanya dengan mengandalkan pensiunan suami saja tidak mungkin. Di sisi lain aku harus memenuhi kebutuhan hidup anak-anakku. Pahit getir aku jalani seorang diri. Aku lelah. Sangat lelah. Hanya kepadaNya aku mengadu. Hanya kepadaNya aku meminta kekuatan. Handika benar-benar hanya fatamorgana. Laki-laki itu sudah milik istri dan anak-anaknya. Aku harus hidup mandiri dan melupakan Handika. Aku terseok-seok mengantarkan anak-anakku menuju masa depannya.
Berbagai jalan hidup aku jalani, dari berdagang kecil-kecilan hingga merantau ke luar negeri. Kutinggalkan anak-anaku dalam kegersangan kasih sayang orang tua. Dalam hati aku berpikir, Tuhanlah yang menyayangi mereka. Aku yakin betul bahwa mereka mendapat kasih sayang langsung dari Sang Maha Kasih dan Maha Sayang. Aku pergi ke luar negeri dengan keberanian seadanya, didasari niatan agar bisa mengantarkan anak-anaku menuju dunia masa depannya.
Dan alhamdulillah, anak sulungku sudah bisa lulus SMA dan kini sudah bisa mencari uang sendiri. Demikian pula anak gadisku yang nomor dua, tidak lama lagi bahkan akan menamatkan sarjana. Sedikit demi sedikit bebanku terkurangi. Namun tidak bisa dipungkiri, jujur aku membutuhkan seorang pendamping dalam hidupku. Aku berharap hadirnya seorang lelaki yang bisa menggantikan posisi Handika di dalam hatiku.
Aku tidak mau terus-menerus menerima perhatian semu dari Handika. Pertentangan batin antara rasa senang dan kecewa bergolak manakala menerima pesan pendek dari Handika. Di satu sisi, bagaimana kelabakan diriku ketika sehari saja Handika tidak mengirim sms kepadaku.
Dalam kepiluan hati aku mencoba merenungi sikap diriku selama ini. “Tuhan tidak akan mengubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang mengubahnya.” Nasehat bijak itu mampir di pikiranku, membimbingku menatap ke depan. Kuperhatikan anak gadisku yang kini sudah menginjak dewasa. Aku bersyukur mempunyai anak gadis yang cantik. Penampilannya serba kewes. Dan kelihatannya banyak teman laki-lakinya yang gemes kepadanya.
Tanpa sepengatuan anak gadisku, aku mencoba belajar darinya. Aku sudah bisa berpenampilan yang lebih menarik, walaupun aku sering minta pertimbangan anak gadisku setiap aku mengenakan pakaianku dan kombinasi antara atas dan bawahan. Dan pada akhirnya aku bisa secara mandiri menentukan kombinasi yang tepat.
Aku juga mempunyai kebiasaan yang baru. Aku banyak terlibat dalam kegiatan-kegiatan sosial dan pengajian ibu-ibu. Bahkan beberapa kelompok pengajian aku ikut di dalamnya. Ada rasa nyaman yang merasuk dalam sanubariku. Tidak hanya itu, aku juga ikut kegiatan fitnes. Aku tidak memedulikan apa kata orang-orang di sekelilingku, yang penting kegiatan itu aku lakukan sebagai ujud rasa bersyukurku kepada Tuhan dengan menjaga kesehatan tubuh.
Anak gadisku telah menjadi obyek pembelajaran bagiku. Berkat dia, semangat hidupku bangkit. Hari-hariku dipenuhi dengan berbagai kegiatan yang positif. Kepercayaan diriku tumbuh dengan cepat setelah aku banyak bergaul dengan ibu-ibu. Aku banyak belajar dari mereka tentang dinamika kehidupan, diantaranya tentang cara mendengar kawan bicara, cara menyusun kata-kata dalam berbicara, cara tersenyum, serta cara bersikap terhadap orang lain.  .
Berkat pergaulanku juga, kakak sepupuku memperkenalkan salah seorang temannya kepadaku. Dari pengakuannya dia bernama Randi. Dia adalah seorang single parent karena ditinggal istrinya ke alam baka. Orangnya santun dan dewasa. Aku memandangnya sebagai sosok laki-laki yang nyaris sempurna; memiliki pedoman hidup dan pegangan hidup. Aku tertaik dengan kepribadian yang dimiliki oleh Randi. Dia seorang pekerja keras. Penghasilannya lebih dari cukup karena toko bangunan yang dimilikinya berkembang cukup pesat. Ketaatan beribadahnya juga tidak diragukan lagi. Randi sudah menyatu dalam pribadi yang utuh, pribadi yang mampu menjalani hidup sesuai dengan panggilan hati nurani.
Namun demikian, seiring dengan perjalanan waktu setelah perkenalanku dengan Randi hingga saat ini masih menyisakan harapan kosong. Hari-hariku hanyalah penantian yang tiada bertepi. Mungkinkah Randi hanya sekali datang ke rumahku? Pertanyaan itu sering hinggap di pikiranku. Kadang aku merasa risau dalam penantian. Untuk menghibur diri, aku pasrahkan semua ini kepada Tuhan. Aku harus mensyukuri apa yang aku miliki saat ini, berupa mahkota hidupku, si buah hatiku yang sudah tumbuh dewasa.
Firasatku mengatakan, Randi tidak tertarik kepadaku, walau aku yang sekarang bukan seperti aku puluhan tahun yang lalu. Aku yang sekarang adalah Anis sebagai manusia biasa tapi berusaha memberikan sumbangsih yang berarti untuk anak-anaku, untuk orang lain dan untuk kelompok pengajian ibu-ibu. Aku sudah cukup merasakan bahagia hidup di tengah-tengah mereka. Akan kukerahkan sisa kebermanfaatan diriku untuk anak-anak dan masyarakat. Dengan begitu, aku berharap Tuhan akan meridlai langkah hidupku dan aku bisa mendapatkan yang terbaik untuk kehidupanku.  ***

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | Best Buy Printable Coupons