DAPATKAN BUKU "MENYIAPKAN KESUKSESAN ANAK ANDA" DI GRAMEDIA BOOKSTORE DI SELURUH INDONESIA

Jumat, 21 November 2014

Menembus Batas

Cerpen Supandi

Secercah harapan bergelayut di kepalaku saat bulan Januari tiba. Asa menari di singgasana kerajaan masa depan yang belum tersingkap. Beberapa bulan lagi aku akan menyelesaikan studiku di bangku SMA. Aku rela jika aku harus bergelut dengan berbagai aktifitas menjelang detik-detik Ujian Nasional. Harapan terbesar yang aku impikan adalah bisa lulus dengan nilai yang istimewa. Dengan begitu, cita-citaku kuliah di perguruan tinggi unggulan tentu akan bisa aku wujudkan.
Pagi itu, tidak seperti biasanya matahari bersinar cerah. Belakangan, sudah beberapa hari desa kami selalu bermandikan hujan, sehingga aku harus melepas sepatu saat pergi ke sekolah. Tapi kali ini aku berjalan melenggang ke sekolah tanpa harus menenteng sepatuku. Sinar matahari turut menghangatkan tubuhku saat aku menyusuri lorong-lorong nan teduh. Aku harus berjalan kaki sejauh dua kilometer karena Ramlan tidak menghampiriku. Pagi itu aku dapati Ramlan sudah terlebih dulu berboncengan dengan Enggar.
“Kamu berangkat sama siapa, Han?” Ramlan sudah berdiri di balik pintu kelas ketika aku sampai di sekolah. Kusapu keringatku dengan kedua lenganku.
Alone.” Jawabku sambil berlalu.
“Apa?…apa?”
Alone. Sendiri, tau?”
Kutaruh tasku di dalam laci meja, sementara Ramlan mengikutiku dari belakang.
“Nanti ulangan Fisika ya, Han? Duh, bagaimana ya, aku semalam ngga belajar je.”
“Ngga belajar?”
“Ngga.”
“Kebetulan dong.”
“Kebetulan bagaimana?”
“Ngurangin saingan.” Ramlan menngamit pipiku. Aku menghindar.
Hari-hari di SMA adalah hari-hari yang menyenangkan. Hari-hari yang penuh dengan canda dan tawa senantiasa mewarnai kebersamaan kami. Aku selalu larut dalam kenangan  yang terukir dalam cerita masa SMA. Senyum para guru juga turut menyejukkan jiwaku. Semua yang kulihat dan aku alami menorehkan kesan yang terukir dalam buku harian kehidupanku.
Selesai ulangan harian, tiba giliran kami untuk mengikuti pelajaran olah raga. Jam ketiga. Matahari bertengger lebih tinggi. Sinar hangatnya berbaur dengan panas. Aku sedikit cemas ketika pak guru olah ragaku meniup peluitnya. “Ya Allah, beri aku kekuatan” doaku di dalam hati. Kucoba membuang kecemasanku. Aku pasrah, dan berusaha enjoy dengan gerakan-gerakan fisik yang menyedot banyak energi. “La Hawla Wala Quwwata Illa Billah, tiada daya dan kekuatan, kecuali dariMu ya Rabb”. Aku selalu membaca kalimat Hauqolah itu berulang kali selama pelajaran olah raga berlangsung. Aku selalu menjadi bahan tertawaan teman-teman ketika kedua kakiku selalu menabrak tiang dalam lompat tinggi. Mereka tertawa riuh ketika aku tertinggal dalam lari sprint seratus meter, bahkan gelak tawa mereka cair ketika kepalaku terkena bola smash dalam train permainan bola voli.
“Eh…Handoko, sini!” pak guru olah raga memanggilku. Aku berlari kecil memenuhi panggilannya.
“Besok kamu cari belut di sawah ya! Kamu ini kurang gizi, jadi gerakanmu ngga gesit.” Kata-kata pak guru olah ragaku cukup menusuk. Aku sedih dibuatnya. Tapi aku sadar. Dan, benar apa yang beliau katakan. Aku tidak boleh sakit hati. Berkat nasehat beliau aku jadi sadar diri. Aku menyadari akan apa yang terjadi pada diriku.
Ketika tidak ada kegiatan sore di sekolah, aku benar-benar menuruti nasehat guru yang menyakitkan itu. Aku telusuri pematang sawah di belakang rumahku. Aku berjalan menunduk, menyibak daun-daun padi yang hijau. Dan ketika petang menjemput aku undur diri. Aku sering pulang dengan beberapa ekor belut. Yang membuat aku senang adalah ternyata mamakku juga menyukai makan sama belut. Aku lahap jika mamak membakar belut-belut itu, lalu diuleg bersama dengan sambal terasi.
Namun sayang, hal itu tidak setiap hari bisa aku lakukan. Senin sampai Kamis aku harus mengikuti kegiatan less sore hari di sekolah. Kegiatan penambahan jam pelajaran untuk menghadapi Ujian Nasional.
“Makan sama apa, Han?” Asih mendekatiku, lalu mengambil tempat duduk di depanku sehingga posisi kami saling berhadapan. Aku tutupi tlekem di hadapanku dengan kelima jariku. Namun Asih memaksaku membuka tlekem itu. Aku jadi malu. Tlekem itu hanya berisi nasi dan beberapa iris tempe goreng.
“Kamu kok pake bawa bekal segala, Asih? Kenapa ngga ke kantin aja?” tanyaku untuk mengalihkan perhatian.
“Emang kenapa kalau aku bawa bekal?”
“Ngga apa-apa. Biasanya kan kamu ke kantin?”
“Emang aneh ya, aku bawa bekal?”
“Ngga juga. Kan lebih enak kalau beli di kantin?”
“Eh…ngece kamu ya! Jangan dikira masakan ibuku ngga enak ya! Masakan ibuku lebih mantap, tau?” Asih melempar dua iris daging sapi ke tlekemku. Aku cuwek aja. Kumakan daging itu. “Lumayan…” pikirku.
Aku berjalan menjemput sinar matahari sore. Kali ini langkahku kaku. Aku merasakan tulang-tulang kakiku kelu. Dan…ya, Tuhan! Mengapa aku sempoyongan? Beri aku kekuatan, ya Tuhanku!. Kuhentikan sejenak langkahku agar bisa mengusir kunang-kunang di kepalaku. “Astaghfirullah, ya Allah, mengapa gelap?. Kunang-kunang itu bertambah banyak. Aku lemas. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuhku. Ya, Allah. Gelap…gelap…gelap sekali. Dan…”
Aku tidak tahu apa yang terjadi sore itu pada diriku. Aku tersadar ketika tubuhku sudah terbaring di Puskesmas kecamatan. Berkali-kali aku mengedipkan mataku. Semua yang aku lihat tampak putih. Dan aku yakin bahwa aku benar-benar di puskesmas. Kulihat mamakku sedang berbincang-bincang dengan beberapa orang di pintu.
“Kamu sudah sadar, Han? Syukurlah.” kata mamakku ketika beliau memalingkan wajahnya kearahku. Aku tersenyum. Mamak tidak membalasku dengan senyuman.
“Mengapa aku ada disini, mak?” tanyaku. “Mamak segera mengurus admnistrasinya ya! Kita pulang saja, mak! Aku ngga apa-apa kok.” kata-kataku mengalir.
“Kamu perlu menjalani perawatan beberapa hari disini, Han.”
“Mamak percaya saja sama aku, mak! Aku sehat kok.” Aku bangunkan tubuhku. Tapi....astaghfirullah, keyakinanku ternyata belum mampu mengangkat tubuhku. Ya, Allah, ada apa dengan tubuhku? Mengapa aku begitu lemas?
Kumanjakan kembali tubuhku diatas pembaringan. Kupandangi wajah mamakku. Beliau menatapku datar. Kupandangi langit-langit, ada dua ekor cecak berkejaran. Salah satu dari cecak itu putus ekornya, dan jatuh. Ekor itu menggeliat di lantai. Kupandangi korden jendela, tapi pandanganku kosong. Aku lebih konsen untuk menahan rasa sakit di perutku. Rasa sakit dan mual terus menyentak perutku. La Hawla Wala Quwwata Illa Billah. Kalimat itu yang bisa aku ucapkan untuk melawan rasa sakit di perutku.
“Mak, kapan kita pulang?” tanyaku ketika rasa sakit itu reda.
“Sekarang.”
“Benarkah, mak?”
“Iya.” Hatiku berbunga-bunga mendengar jawaban dari mamakku. Dan, benar. Santo, adikku turun dari mobil pamanku untuk menjemputku. Kubangunkan tubuhku, tapi…ya ampun, aku tak kuasa. Paman Darso yang kekar itu dengan sigap mengangkat tubuhku. Santo dan mamak mengiringiku dari belakang.
Aku mencoba untuk memasukkan makanan ke dalam mulutku. Walau pahit tapi kupaksakan agar tubuhku mendapat asupan energi. Dan, aku bersyukur karena lambat laun aku merasa ada energi yang masuk ke dalam tubuhku. Setidaknya aku sudah bisa duduk. Aku juga bisa menyiram mukaku dengan air wudlu. Aku kangen dengan air wudlu. Selama satu minggu aku tidak bisa mengambil sendiri air wudlu. Aku ingin menggunakan air itu sebagai wasilah untuk memperoleh kekuatan yang lebih banyak lagi. Dengan air wudlu aku bisa mensucikan diri menghadap Illahi. Dialah tempatku menggantungkan segala harapan.
Setelah menyantap beberapa sendok nasi bubur ayam, aku rebahkan kembali tubuhku diatas pembaringan. Hari-hari kulewati dengan kegelisahan. Entah sudah berapa jauh aku tertinggal pelajaran di sekolah. Mampukah aku mengejar ketertinggalanku? Aku luruh dalam ketidakberdayaan. Aku lemas. Sekujur tubuhku lunglai tak berdaya. Gelap. Sangat gelap. Si hitam kelam itu kembali menggerayangi pandanganku. Kamarku berputar, meluluhlantakkan ingatanku. Aku hanyut dalam alam yang gung liwang Liwung. Aku terjerembab dalam sebuah situasi dimana tidak ada lagi kehidupan.
Setelah beberapa lama aku tenggelam dalam kegelapan, kini bias-bias cahaya putih sedikit demi sedikit membimbing pikiranku. Cahaya putih itu berbaur dengan warna merah kehitam-hitaman. Aku tersadar. Kuraba dadaku. Kupastikan bahwa ternyata aku masih hidup. Syukurlah. Untuk lebih memastikan bahwa aku masih hidup, kucoba untuk menyatukan kedua tanganku. Tapi kali ini gerakanku tertahan. Aku merasakan ada tangan halus yang menahan tanganku. Entahlah. Aku seperti mendapat aliran energi melalui kehangatan tangan itu. Energi itu mampu memberiku kekuatan untuk membuka mataku. Aku siuman. Aku tersadar. Tuhan masih memberiku kehidupan.
Beberapa kali aku mengedipkan mataku untuk meyakinkan kesadaranku. Pandangan pertama yang bisa aku kenali adalah wajah seorang gadis bermata sendu.
“Asih?” tanyaku lirih.
“Iya, ini aku. Asih.” Jawab gadis itu. “Syukurlah kamu sudah sadar, Han.”
“Sama siapa kamu kesini?”
“Tuh…! Ada Ramlan, Heru, Enggar, dan Wisnu.”
“Syukurlah.” Kataku lirih.
“Di luar juga ada Siti, Reni, terus…Titi. Mereka lagi ngobrol sama mamakmu.”
Tangan Asih masih memegangi tanganku. Jujur aku merasakan hadirnya kekuatan dalam jiwaku. Tapi tidak dengan ragaku. Ingin rasanya aku berkata-kata, tapi suaraku tertahan di tenggorokan.
“Han…” suara halus itu memanggilku. Aku hanya bisa menyahut panggilan itu denga ekspresi wajahku. Lidahku kelu. Suaraku tidak mampu kukeluarkan. Tapi aku yakin Asih tahu bahwa sebenarnya aku telah menjawab panggilannya. Menyadari panggilannya tidak terjawab, Asih sepertinya tidak mau menyapaku dengan kata-kata. Asih mengimbangi diriku. Kali ini Asih berbicara lewat tatapan matanya. Kubalas tatapannya. Butiran air mata membasahi kedua kelopak matanya.
“Asih…” aku berhasil mengeluarkan suaraku yang terganjal di kerongkongan. “Ka…mu, ka…mu jangan me…na…ngis! Kalau…aku…sudah, su dah sembuh…kita…ma…kan bareng lagi…di…kelas, ya!” Asih mengangguk. Aku senang Asih menyanggupi permintaanku untuk makan berdua lagi denganku di kelas sebelum les dimulai. “Tapi…kapan…ka pan…ya, aku bisa ngasih kamu lauk da…ging sapi?” Asih menggelengkan kepala. Air matanya deras mengalir, membasahi kedua pipinya. Asih melepas tanganku. Jari-jarinya digunakan untuk menyapu air matanya yang meleleh deras.
Mengapa semua temanku juga menangis? Apa gerangan yang telah terjadi pada diriku? Apakah aku sudah terserang penyakit yang ganas? Tidak. Aku tidak boleh berpikiran negatif. Tapi…kalau tidak ganas, mengapa mamak membawaku pulang dalam keadaan aku masih sakit? Bukankah itu berarti sebenarnya aku belum boleh pulang oleh dokter? Tapi mamak tidak sanggup membiayai biaya perawatanku? Tidak. Aku harus sembuh walau tanpa perawatan dokter. Aku tidak ingin kepulanganku hanya karena menunggu waktu hingga maut menjemputku. Tidak. Aku tidak boleh mati di usia muda. Aku punya cita-cita. Aku yakin, Tuhan pasti sayang sama aku. Aku yakin itu. Tuhan adalah segalanya bagiku. Aku akan terus memohon kepada Tuhan. Dan, aku yakin Tuhan pasti akan menjawab doa-doaku.
“Asih!” kali ini suaraku benar-benar normal. Aku sangat bersyukur. Semua ini bisa dipastikan karena support dari teman-teman melalui segenggam ketulusan yang telah mereka hadirkan ke hadapanku. Air mata itu telah menyuburkan kembali kelayuan yang ada pada diriku.
“Iya, Han. Ada apa?” Asih kembali meraih tanganku. Kini, tangan kananku tegak bersama dengan kedua tangan Asih.
“Asih!...maukah kamu membantuku?”
“Insya Allah, Han, aku pasti akan membantumu. Kamu ingin apa?”
“Kalau kamu pas bangun malam, kamu mau ngga, ikut ndoain aku, memohon kepada Tuhan agar aku bisa sehat kembali? Aku ingin hidup. Aku ingin membahagiakan Mamak.
“Iya, Han. Iya, aku siap. Aku akan melakukannya demi kesembuhanmu.”
“Terima kasih, sahabatku.” Asih terdiam. “Terima kasih, sahabatku.” Kuulangi ucapan terima kasihku, tapi Asih tidak meresponnya. “Ya sudah, kalau kamu keberatan, kamu ngga usah bangun malam juga ngga apa-apa! Berdoanya siang saja habis shalat!”
“Eh, engga, engga, aku ngga keberatan kok?”
“Tapi mengapa kamu diam, Asih?”
“Ngga,…ngga apa-apa,” aku menemukan ada gurat-gurat kekecewaan di wajahnya. Entahlah, aku tidak tahu.
“Selain berdoa, aku juga akan memaksakan diri untuk makan walaupun pahit di lidah.”
“Betul, Han, kamu harus makan dan minum yang cukup!”
“Jika aku sudah sehat, aku akan mewujudkan impianku.”
“Kalau boleh tau, apa impian kamu, Han?”
“Aku akan kuliah walau entah darimana biayanya. Aku akan membahagiakan mamakku dan adiku. Aku juga akan membahagiakan orang-orang yang sayang sama aku. Dengan ilmu yang cukup aku yakin ilmu itu bisa aku jadikan pondasi untuk meraih kehidupan yang baik. Dengan kehidupan yang baik aku akan memiliki kekuatan untuk membahagiakan mamak dan adiku.”
“Sungguh mulia cita-citamu, Han.”
“Aku tidak rela mamakku diterlantarkan seperti sekarang ini.”
“Maksud kamu?”
“Bapakku telah menelantarkan mamakku. Laki-laki itu pergi mencari kesenangannya sendiri. Mamakku diterlantarkan begitu saja. Aku ngga rela. Oleh karena itu, aku harus hidup, Asih. Aku harus hidup. Aku ngga mau terus menerus tergeletak tanpa daya.” Kali ini aku tidak mampu menahan air mataku.
Kunjungan teman-teman ke rumahku telah memberi arti yang sangat besar. Aku seperti mendapat energi baru. Energi baru yang terhimpun bersama keajaiban dari Tuhan telah mengubah duniaku yang penuh dengan keterbatasan menjadi dunia yang penuh harapan. Aku mempunyai harapan-harapan baru yang terlukis dalam ruang dan waktu.
Aku berhasil melewati tantangan. Aku berhasil mengejar ketertinggalanku. Hampir semua angka di ijasahku diatas delapan. Paman Darso adalah orang pertama yang mendukungku secara materi.
“Yang penting kamu bayar dulu uang masuknya, Han. Kebetulan paman ada rejeki buat membayar biayamu masuk kuliah.” Paman Darso telah menyingkap tabir kebingunganku. “Untuk biaya selanjutnya kita pikir belakangan.” Kata paman Darso.***

0 komentar:

Posting Komentar

 
Design by Wordpress Theme | Bloggerized by Free Blogger Templates | Best Buy Printable Coupons